Senin, 28 Maret 2022

SEJARAH DAN PROFIL PONDOK PESANTREN NURUL CHOLIL DEMANGAN BANGKALAN


                Awal berdiri Pondok Pesantren Nurul Cholil erat kaitannya dengan perkembangan Pondok Pesantren Syaikhona Cholil Bangkalan. Sejak Syaikhona Cholil bin Abd Latif wafat tahun 1925, pengasuh pondok pesantren dipangku oleh Kiai Haji Imron Cholil, namun beliau menyerahkan tugas kepemimpinannya kepada Kiai Haji Muntashor bin Muhammad, menantunya. Kiai Muntashor ini juga merupakan salah satu santri Syaikhona Cholil yang terkenal wara’, alim dan berbudi luhur.

Awal cerita bermula dari ungkapan dhabu (Madura; red), Kiai Imron bin Syaikhona Moh Cholil pada tahun 1955, kepada beberapa santri. Salah satunya bernama Munawwir asal Desa Bilaporah, Kecamatan Socah, Bangkalan; bahwa Kiai Imron melihat cahaya (nur) di atas kediaman Kiai Muntashor bin Muhammad.

Di lokasi inilah beliau memberi isyarat bahwa nantinya akan berdiri sebuah pondok pesantren besar yang diasuh oleh salah satu keturunan beliau. Dan kelak putra-putri dari alumni Kiai Imron akan belajar di pondok itu. Isyarat tersebut diperjelas oleh beliau dengan mengatakan bahwa kelak di lokasi musholla Kiai Muntashor akan berdiri pondok pesantren besar

Selang beberapa waktu kemudian santri di Ponpes Syaikhona Cholil kian hari kian bertambah, sehingga asrama pemukiman yang ada tidak dapat menampung santri. Konon sebagian santri sampai berteduh di bawah pohon Salak. Sehingga membuat salah seorang santri minta izin kepada Kiai Haji Makmun bin Kiai Haji Imron dan Kiai Haji Fathur Rozi untuk pindah ke musholla Kiai Haji Muntashor sebelah barat Ponpes Syaikhona Cholil yang berukuran 4×4 meter persegi dan berstatus tanah waqof dari Datuk Muhammad Bin Sholeh.

Pada tahun 1957 dawuh Kiai Imron terwujud dan berdirilah sebuah pondok pesantren di situ. Dari sinilah cikal bakal berdirinya pondok pesantren Nurul Cholil yang saat itu jumlah santri masih bisa dihitung dengan jari. Santri pertama ponpes ini bernama Syafi’i. Ponpes ini pun juga masih belum memiliki nama saat itu.

Seiiring dengan berjalannya sang waktu, santri pun kian hari kian bertambah banyak, oleh karena itu Kiai Muntasor berinisiatif untuk membangun asrama pemukiman untuk santri. Dalam hal ini Kiai Muntashor dibantu oleh Haji Jawini (Juaini) Pakaan Lao’ dan Haji Abd Jalil Sattoan Bangkalan. Pembangunan pun dimulai dan berdirilah asrama berukuran 8×12 meter persegi tersekat menjadi 4 bilik yang selanjutnya disebut cangkruk (sebutan untuk tempat beristirahat dan berfikir). Penyebutan ini diilhami dari perkataan istri Kiai Muntashor, yakni Nyai Hajjah Nadhifah Imron ketika melihat begitu kecilnya asrama yang ada.

 Perkembangan Ponpes

Sebagai lembaga pendidikan salaf, pondok pesantren ini mengadopsi sistem belajar bandongan dan sorogan. Ternyata sistem tersebut mampu memikat animo masyarakat untuk menuntut ilmu dan mengaji ke pondok yang diasuh Kiai Muntashor ini. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengikuti kegiatan bandongan dan sorogan tersebut, di antaranya terdapat Kiai Haji Thobroni bin Kiai Haji Abd Aziz Sebaneh, beliau sangat akrab sekali dengan Kiai Muntashor.

Era 70-an istilah cangkruk berubah menjadi Ponduk Jhubara’(pondok barat; red) dan asrama santri bertambah menjadi 21 bilik dengan berupa bangunan kayu yang menjadi ciri khas pesantren kala itu.

Pada tahun 1977 mendung duka menyelimuti kota Bangkalan, Kiai Muntashor selaku pengasuh sekaligus pendiri pondok pesantren meninggal dunia. Kemudian secara otomatis tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra tunggal beliau yaitu Kiai Haji Zubair Muntashor.

Dan semenjak itulah beliau dengan telaten mengadakan pembenahan di berbagai sektor dan disesuiakan dengan tuntutan zaman, namun tetap dalam kriteria salafiyah, terutama di sektor pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu mempertahankan sistem sorogan dan bandongan sekaligus menambahkan Madrosiyah Klasikal dan jam wajib belajar. Dalam hal ini santri Ponduk Jhubara’ ini mengikuti kegiatan wajib belajar diniyahnya di Pondok Pesantren Al-Kholiliyah An-Nuroniyah Demangan Timur.

Tidak hanya dibidang pendidikan, sistem kedisiplinan santri juga mendapat perhatian, mulai saat itu semua santri diwajibkan untuk melaksanakan sholat secara berjamaah serta dilarang untuk keluar dari wilayah pondok pesantren di waktu malam hari.

Sejak tahun 1983 sebutan Ponduk Jhubara’ berubah menjadi Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori atas inisiatif dari Kiai Zubair Muntashor. Nama ini diasumsikan sebagai perkembangan dari perwujudan dawuh Kiai Imron bin Syaichona Cholil jauh sebelum pondok pesantren ini berdiri. Dan sejak itu pula, Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori secara kuantitas mengalami peningkatan. Jumlah santri berkembang dengan pesat, bahkan pada tahun 1986 Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori mendirikan pondok pesantren khusus putri dengan nama Ponpes Putri Nurul Cholil. Hal ini berawal dari kesadaran dan animo masyarakat tentang pentingnya pendidikan agama untuk putra-putri mereka dan sesuai dengan kepedulian pengasuh terhadap peningkatan SDM (sumber daya manusia) lewat pendidikan agama.

Dengan semakin banyaknya santri yang mondok di Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori, pada tahun 1987 pondok pesantren mulai mengadakan pembenahan manajemen dengan membentuk pengurus yang terdiri dari tiga unsur yaitu dewan penyantun, dewan harian dan dewan pleno. Seiring waktu perkembangan, Pondok Pesantren ini terus berpacu untuk membenahi manajemennya. Pemilihan pengurus periode 1989-1990 menghasilkan keputusan untuk melengkapi struktur organisasi kepengurusan dan melengkapi personalia. Secara struktural kepengurusan saat itu lebih lengkap dari periode sebelumnya dengan fasilitas kantor yang sederhana. Para pengurus dengan khidmat dan penuh pengabdian menjalankan tugas kepengurusan dengan penuh semangat walaupun hasilnya masih jauh dari sempurna. Saat itu Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori memiliki jumlah santri sebanyak kurang lebih 500 santri putra dan 200 santri putri.

Kemudian pada tahun 1992 nama Ponpes Nurul Cholil Al-Muntashori disingkat menjadi Ponpes Nurul Cholil atas usul dari ibu nyai Hajjah Masri’ah Anwar. Usul yang sebelumnya disetujui oleh pengasuh pondok pesantren Kiai Zubair Muntashor. Sampai saat ini pondok pesantren yang didirikan pada tahun 1957 dan sudah memiliki ribuan santri itu bernama Ponpes Nurul Cholil.

#PPNC

#HISAN

Senin, 21 Maret 2022

Asmaul Husna

 Asmaul Husna memiliki keistimewaan-keistimewaan, salah satunya sebagai doa. Dalam surat al-A'raf ayat 180 disebutkan,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا، وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ، سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  

Artinya, “Allah memiliki Asmaul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna (nama-nama terbaik) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-Araf : 180)

Karena itu tidak heran bila lafal doa yang kita jumpai nyaris selalu menyertakan satu atau lebih nama Allah yang terdapat dalam 99 Asmaul Husna, seperti Yâ Raḫmân, Yâ Karîm, Yâ Razzâq, Yâ Fattâḫ, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian ulama secara khusus menyusun doa yang mereka beri nama Du‘â al-Asmâ al-Ḫusna (Doa Asmaul Husna). Sebagian lagi menyusun nadham atau syair yang berisi seluruh nama-nama agung itu. Baik doa maupun nadham, susunan redaksinya bisa berbeda-beda, mengikuti ijtihad para ulama dalam merangkai untaian pujian dan doa.  

Wirid Asmaul Husna Asmaul Husna juga menjadi wirid atau amalan rutin para ulama sejak zaman dulu karena keutamaan dan rahasia di dalamnya. Asmaul Husna diyakini sebagai media (tawasul) paling manjur dalam membuka berbagai pintu kebahagiaan secara lahir maupun batin. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Abwabul Faraj (1971: 132) menyebut, sebagian ulama salaf tiap bakda shalat Maghrib memiliki rutinitas bersama teman-temannya membaca surat Yasin, dilanjut melantunkan Asmaul Husna, doa Asmaul Husna, lalu memohon sesuatu kepada Allah.

  Ulama besar tasawuf Al-Azhar kelahiran Sudan, Syekh Shalih al-Ja'fari bercerita bahwa melantunkan Asmaul Husna merupakan salah satu wirid tarekat guru beliau. Alam raya dan seisinya diyakini sebagai manifestasi nama-nama Allah. Sehingga, siapa saja yang memanjatkan doa dengan Asmaul Husna, ia tak ubahnya sedang menarik seluruh kebaikan datang kepadanya, dan membentengi dirinya dari berbagai ancaman keburukan. Ketika seseorang, misalnya, melantunkan Yâ Raḫmân (wahai Yang Maha Penyayang) maka sesungguhnya ia sedang memohon limpahan kasih sayang atau rahmat dari Allah; saat membaca Yâ Lathîf (wahai Yang Mahalembut) maka sejatinya ia sedang memohon kelembutan; kala membaca Yâ Ghafûr (wahai Yang Maha Pengampun) maka sama halnya ia tengah meminta ampunan; ketika melantunkan Yâ Razzâq (wahai Yang Maha Pemberi rezeki) maka tak ubahnya ia sedang menarik rezeki datang menghampirinya, dan begitu seterusnya (Sayyid Muhammad al-Maliki, Abwabul Faraj, 1971: 132).  

Dengan demikian, bagi Syekh Shalih al-Ja'fari, Asmaul Husna lebih dari sekadar deretan nama-nama agung yang “hanya” bisa menjadi media atau tawasul untuk doa-doa. Asmaul Husna di mata beliau sudah mengandung doa itu sendiri, bahkan lebih luas. Seseorang secara tidak langsung sedang berusaha menyerap limpahan kebaikan dan menyingkirkan keburukan-keburukan saat melantunkan Asmaul Husna, sesuai dengan masing-masing makna dari nama-nama yang disebut. 


Jumlah Asmaul Husna

 Sebenarnya terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait jumlah nama-nama Allah. Sebagian mengatakan bahwa nama Allah pada dasarnya tidak terbatas pada angka tertentu. Ada pula yang berpendapat, bahwa jumlah nama itu terbatas di angka tertentu (100, 1000, 99, dan lainnya) meskipun sebagian nama-nama-Nya tidak diketahui manusia secara keseluruhan. Pendapat bahwa Asmaul Husna berjumlah 99 adalah paling populer dengan berpatokan pada hadits di atas. Wallahu a'lam.

DOA-DOA YANG MENYERTAI GERAKAN WHUDUK VERSI NU ONLINE

 Islam yang merupakan agama rahmatan lil ‘alamin sangat memberikan perhatian yang besar terhadap kebersihan dan kesucian.

Salah satu bukti nyata ialah pensyariatan thaharah (bersuci) yang menjadi syarat sah pelaksanaan beberapa ibadah.

 Di dalam bersuci, ada penghargaan terhadap watak dasar manusia yang pada dasarnya mencintai kebersihan, sekaligus bentuk penghargaan terhadap Sang Khaliq saat kita menghadap-Nya.

  Wudhu merupakan satu di antara bentuk bersuci yang disyariatkan dalam Islam. 

Pada saat berwudhu, kita diperintahkan untuk membersihkan beberapa anggota tubuh kita, baik dengan cara mencuci maupun mengusapnya.

   Jika kita perhatikan, sebenarnya gerakan wudhu tidaklah jauh berbeda dengan tindakan mencuci muka dan lainnya yang bukan ibadah.

 Bedanya adalah wudhu merupakan bentuk ketaatan kita terhadap perintah Allah. 

Dengan demikian, agar wudhu yang kita lakukan semakin bertambah kualitas ketaatannyya, berikut ini akan kami paparkan beberapa doa yang menyertai gerakan wudhu, sebagaimana telah kami sarikan dari kitab karya Syekh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyidil Abrâr, (Surabaya: Kharisma, 1998).   Dengan menyertakan doa dalam setiap gerakan wudhu, diharapkan wudhu yang kita lakukan bisa bertambah kualitas makna ibadahnya. Doa-doa tersebut ialah:   

1. Saat membasuh telapak tangan sebanyak 3 kali, berdoa:

   اَللّٰهُمَّ احْفَظْ يَدِيْ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّهَا 

Allâhumma ihfadh yadi min ma‘âshîka kullihâ   Artinya:

 “Ya Allah, jagalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat.”   

2. Saat berkumur, disunnahkan berdoa di dalam hati: 

اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ، اَللّٰهُمَّ اسْقِنِيْ مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا 

Allâhumma a‘inni ‘alâ dzikrika wa syukrika, Allâhumma asqinî min haudli nabiyyika shallallâhu ‘alaihi wa sallam ka’san lâ adzma’u ba‘dahu abadan   

Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku (untuk selalu) mengingat dan bersyukur pada-Mu. Ya Allah, beri aku minuman dari telaga Kautsar Nabi Muhammad, yang begitu menyegarkan hingga aku tidak merasa haus selamanya.”   

3. Ketika membersihkan lubang hidung, pada saat menghirup air, dalam hati berdoa: 

اَللّٰهُمَّ أَرِحْنِيْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، اَللّٰهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نِعَمِكَ وَجَنَّاتِكَ 

Allâhumma ariḫnî râiḫatal jannah. Allâhumma lâ taḫrimnî râiḫata ni‘amika wa jannâtika

 Artinya: “Ya Allah, (izinkan) aku mencium wewangian surga. Ya Allah, jangan halangi aku mencium wanginya nikmat-nikmat-Mu dan wanginya surga-surga-Mu.” Sedangkan ketika mengeluarkan air dari lubang hidung, berdoa:

 اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَسُوْءِ الدَّارِ

 Allâhumma innî a‘ûdzu bika min rawâiḫin nâr wa sû’id dâr Artinya: “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari busuknya bau neraka, dan dari buruknya tempat kembali.”   

4. Saat membasuh wajah, berdoa:

 اَللّٰهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ 

Allâhumma bayyidl wajhî yauma tabyadldlu wujûhun wa taswaddu wujûh(un)   

Artinya: “Ya Allah, putihkanlah wajahku di hari ketika wajah-wajah memutih dan menghitam.”

   Doa ini dipanjatkan agar di akhirat kelak Allah menggolongkan kita sebagai orang baik, dimana saat berkumpul di padang mahsyar, orang baik dicirikan dengan berwajah putih, dan sebaliknya orang jelek dicirikan dengan berwajah hitam kusam.   

5. Saat membasuh tangan kanan, berdoa: اَللّٰهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيرًا 

Allahu a‘thinî kitâbî biyamînî, wa ḫâsibnî ḫisâban yasîran   

Artinya: “Ya Allah, berikanlah kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan.”   Sedangkan saat membasuh tangan kiri, berdoa: اَللّٰهُمَّ لَا تُعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ 

Allâhumma lâ tu‘thinî bi syimâlî, wa lâ min warâ-idh dhahrî   

Artinya: “Ya Allah, jangan Kauberikan kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kiriku, dan jangan pula diberikan dari balik punggungku.”  

 Tentang doa di atas, kelak di akhirat nanti, Allah akan memberikan pada semua manusia, catatan amal mereka masing-masing. 

Apabila manusia tersebut amalnya baik, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kanan dan berhadapan muka, namun apabila amalnya jelek, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kiri dan diberikan dari balik punggung.   

6. Saat mengusap kepala, berdoa: 

اَللّٰهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّكَ 

Allâhumma ḫarrim sya’rî wa basyarî ‘alân-nâri wa adhillanî taḫta ‘arsyika yauma lâ dhilla illâ dhilluka   

Artinya: “Ya Allah, halangi rambut dan kulitku dari sentuhan api neraka, dan naungi aku dengan naungan singgasana-Mu, pada hari ketika tak ada naungan selain naungan dari-Mu.”   

7. Saat mengusap telinga, berdoa:

 اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنْ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ

 Allâhumma-j‘alnî minalladzîna yastami‘ûnal qaula fayattabi‘ûna aḫsanahu   

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang mampu mendengar ucapan dan mampu mengikuti apa yang terbaik dari ucapan tersebut.”   

8. Saat membasuh kaki kanan berdoa: 

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْأَقْدَامُ 

Allâhumma-j’alhu sa‘yan masykûran wa dzamban maghfûran wa ‘amalan mutaqabbalan. Allâhumma tsabbit qadamî ‘alash shirâthi yauma tazillu fîhil aqdâm   

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah (segenap langkahku) sebagai usaha yang disyukuri, sebagai penyebab terampuninya dosa dan sebagai amal yang diterima. Ya Allah, mantapkanlah telapak kakiku saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki yang tergelincir.”   Dan saat membasuh kaki kiri berdoa:

  اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ تَنْزِلَ قَدَمِيْ عَنِ الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ فِيْهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ 

Allahu innî a‘ûdzu bika an tanzila qadamî ‘anish-shirâthi yauma tanzilu fîhi aqdâmul munâfiqîn   

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu, dari tergelincir saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki orang munafik yang tergelincir.” 

  Terkait doa di atas, kelak di akhirat, semua manusia akan melewati jembatan shirathal mustaqim, yakni jembatan yang dibawahnya terdapat jurang menuju neraka, dan di ujung jembatan terdapat surga. Orang yang beriman niscaya akan mampu melewati jembatan tersebut dan menuju surga, sementara orang munafik, banyak yang tergelincir dan masuk ke jurang neraka. 

BACAAN BILAL SEBELUN KHOTBAH JUMAAT

 Adzan pertama disarankan dengan suara yang lebih panjang untuk menandakan bahwa waktu sholat Jum'at sudah tiba.


Berikut lafal adzan:


اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ, اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ, أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ, حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ, حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ لآ اِلهَ اِلاَّ اللهُ


Setelah adzan pertama selesai, jemaah dianjurkan melaksanakan sholat sunnah qobliyah Jum'at. Setelah itu, bilal berdiri untuk mengantarkan khatib naik mimbar.


مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١×


Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, kemudian khatib maju menerima tongkat dan ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca shalawat berikut ini:


اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ، اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ


Kemudian setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca shalawat dan doa sebagai berikut:


اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلإِيمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْ الدِّينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ


Ketika khatib duduk selesai khutbah pertama, bilal membaca sholawat. 


اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


Sedangkan jemaah dianjurkan untuk berdoa karena doa di antara dua khutbah merupakan waktu mustajab.


Setelah khatib selesai,bilal atau muraqqi kemudian mengumandangkan iqomah atau qomat sebagai pertanda dilaksanakannya sholat Jumat.


 اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر


أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ


اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ


اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر


لاَ إِلَهَ إِلاَّالله


Dikutip dari sebagian kita bacaab bilal berisi sebagai berikut


1. Berisi anjuran mendengarkan secara seksama khutbah yang akan disampaikan khatib. 


2. Larangan berbicara saat khutbah berlangsung.

3. Pembacaan shalawat kepada Nabi. 

4. mendoakan kaum muslimin dan muslimat.


Sama seperti sholat-sholat lainnya, sholat Jumat juga harus diawali dengan membaca niat. Berikut bacaan niat sholat Jumat bagi makmum:


اُصَلِّيْ فَرْضَ الجُمْعَةِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً مَاْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى


Ushalli fardhol jum'ati rak'ataini mustaqbilal qiblati adaa an makmuman lillaahi ta'aala


Artinya: Saya berniat melaksanakan kewajiban sholat Jumat dua raka'at dengan menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta'ala.


Selesai sholat Jumat sebelum lisan mengucapkan sesuatu, Muslim dianjurkan untuk membaca surat-surat pendek dalam Alquran yakni surat Al Fatihah, Surat Al ikhlas, Surat Al Falaq, dan Surat An Nas. Masing-masing tujuh kali setelah mengucap salam dari shalat Jumat sebelum ia melipat kedua kakinya.


Setelah itu ia membaca doa berikut:


اللهم يا غني يا حميد ، يا مبدىء يا معيد ، يا رحيم يا ودود ، أغنني بحلالك عن حرامك ، وبطاعتك عن معصيتك ، وبفضلك عمن سواك


Allahumma ya ghaniyyu ya hamiid yaa mubdiu ya mu’iid ya rahiimu ya waduud aghnina bi halalika an haramik wa bitha’atika an ma’siyatik wa bifadhlika amman siwaaka".


Artinya: Ya Allah, Yang Mahakaya, Maha terpuji, Mahapencipta, Mahakuasa Mengembalikan, Mahapenyayang, dan Mahakasih. Cukupi aku dengan harta halal-Mu, bukan dengan yang haram. Isilah hari-hariku dengan taat kepada-Mu, bukan mendurhakai-Mu. Cukupi diriku dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.


Wallahu A'lam.

Senin, 14 Maret 2022

DOA MEMPELAI PRIA SETELAH AKAD NIKAH

 DOA MEMPELAI PRIA SETELAH AKAD NIKAH


Kemarin saat menghadiri akad nikah di tetangga sebelah, ada yang bertanya tentang doa yang dibaca mempelai pria setelah melangsung akad nikah saat menyerahkan mahar dan pertama kali bertemu istrinya? Emm, saya teringat dawuh guru saya ketika mengijazahkan doa tersebut:


اَللّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِي أَهْلِيْ وَبَارِكْ لِأَهْلِيْ فِيَّ وَارْزُقْهُمْ مِنِّي وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ فِي خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا مَا فَرَّقْتَ فِيْ خَيْرٍ، بَارَكَ اللّهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِي صَاحِبِه. اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.


Artinya: "Ya Allah, berkahilah aku dalam keluargaku dan berkahi keluargaku dalam diriku. Berilah mereka rizki dariku dan berilah aku rizki dari mereka. Kumpulkanlah kami sebagimana Engkau telah mengumpulkan sesuatu dalam kebaikan. Dan pisahkan kami sebagaiman Engkau telah pisahkan sesautau dalam kebaikan. Semoga Allah memberkahi setiap dari kami dengan pasangannya. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan watak yang engkau jadikan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang Engau jadikan padanya. Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak dari keturunannya kepada-Mu dari syaitan yang terkutuk.”


Dawuh beliau: "Doa ini dibaca setelah selesai akad nikah. Sebagaimana tradisi yang berlaku di sebagian masyarat, pengantin putra dibawa ke kamar pengantin putri untuk menyerahkan mahar dan sebelum menyerahkan maharnya, pengantin putra dianjurkan membaca bismillah sembari memegang ubun-ubunya membaca doa tersebut lalu kecup keningnya insyaallah sang istri akan tuduk patuh diberi keberkahan dalam rumah tangganya dan dilindungi dari kejelekan sifat buruknya.


Saya sempat iseng buka-buka kitab para ulama, barang kali doa tersebut tertulis kitab-kitab mereka. Alhasil, ditemukan beberapa keterangan yang terkait doa tersebut. Berikut catatan detailnya: 


Dalam kitab al-Dzkar al-Muntakhabah min Kalami Sayyidi al-Abror, Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 233, Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin syaraf an-Nawawi (w. 676 H), mengatakan:


 يُستحبّ أن يُسَمِّيَ اللَّهَ تعالى ويأخذَ بناصيتهَا أولَ ما يَلقاها، ويقول: بارَك اللَّهَ لكلِّ واحدٍ منَّا في صاحبه، ويقول معهُ ما رويناهُ بالأسانيد الصحيحة في سنن أبي داود، وابن ماجه، وابن السني، وغيرها؛ عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده رضي الله عنهُ، عن النبي صلى الله عليه وسلم، قال: "إِذَا تَزَوَّجَ أحدكمُ امْرأةً أوِ اشْتَرَى خَادماً فَلْيَقُلِ: اللَّهُمَّ إِني أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ ما جَبَلْتَها عَلَيْهِ، وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ ما جَبَلْتَها عَلَيْهِ. وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيراً فَلْيأْخُذْ بِذِرْوَةِ سِنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذلك". وفي رواية أبي داود: "ثُمَّ ليأْخُذْ بِناصِيَتِها، وَلْيَدْعُ بالبَرَكَةِ في المرأة والخادم".


"Disunnahkan bagi penganten putra di awal perjumpaan dengan istrinya membaca bismillah dan memegang ubun-ubunnya seraya membaca doa: "Semoga Allah memberkahi setiap dari kami dengan pasangannya." Dan sertai membaca doa berikut yang telah diriwayatkan pada kami dengan beberapa sanad yang dalam Sunan Abi Daud, Ibnu Majah, Ibnu as-Sunni dan lainnya dari Amr bin Su'aib dari Ayahnya dari kakeknya ra dari Rasulullah, beliau bersabda: "Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan watak yang engkau jadikan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang Engau jadikan padanya." Dan apabila ia membeli seekor unta maka peganglah punuknya dan berdoalah seperti doa tadi.” Dalam riwayat lain dari Abi Daud terdapat redaksi teks yang berbeda: "Kemudian hendaknya ia memegang ubun-ubunnya lalu berdoa dengan doa barokah pada saat menikahi perempuan dan memperbantukan seorang pelayan.


Senada dengan al-Imam an-Nawawi, Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin al-Husain bin Umar (w. 1320 H) yang dikenal dengan sebutan Ba'alawiy dalam kitabnya Bughiyah al-Mustarsyidin, Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 247 mengatakan:


[فائدة]: أخرج الإمام مالك في الموطأ أن رسول الله قال: "إذا تزوّج أحدكم المرأة أو اشترى الجارية فليأخذ بناصيتها وليدع بالبركة" اخـ. وليقل: " اَللّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِي أَهْلِيْ وَبَارِكْ لِأَهْلِيْ فِيَّ وَارْزُقْهُمْ مِنِّي وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ ، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ فِي خَيْرٍ ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا مَا فَرَّقْتَ فِيْ خَيْرٍ، بَارَكَ اللّهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِي صَاحِبِه" اهـ من كتاب البركة. وروى أبو داود: "إذا تزوّج أحدكم فليقل: اللَّهُمَّ إِني أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ ما جَبَلْتَها عَلَيْهِ، وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ ما جَبَلْتَها عَلَيْهِ" اهـ. وليقل: "اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ".


(Faidah): Al-Malik bin Anas ra meriwayatkan hadits dalam kitab al-Muwaththa' berkata: Sesungguhnya Rasululullah bersabda: "Jika salah satu dari kalian menikahi seorang perempuan atau membeli seorang budak (pelanyan), maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya lantas berdoa dengan doa barokah lalu dilanjutkan dengan doa: "Ya Allah, berkahilah aku dalam keluargaku dan berkahi keluargaku dalam diriku. Berilah mereka rizki dariku dan berilah aku rizki dari mereka. Kumpulkanlah kami sebagimana Engkau telah mengumpulkan sesuatu dalam kebaikan. Dan pisahkan kami sebagaiman Engkau telah pisahkan sesuatu dalam kebaikan. Semoga Allah memberkahi setiap dari kami dengan pasangannya." Dikutib dari kitab al-Barokah. Dan terdapat hadist yang diriwayatkan Imam Abu Daud ra: "Bila salah satu dari kalian menikah, maka ucapkanlah doa: "Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan watak yang engkau jadikan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan watak yang Engau jadikan padanya." Kemudian dilanjutkan dengan doa: 


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


"Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak dari keturunannya kepada-Mu dari syaitan yang terkutuk.”


Keterangan yang sama juga bisa dijumpai dalam al-Fatawa al-Fiqiyah al-Qubra, Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah juz 1 hal 192 karya Imam Ibnu Hajar al-Haitamiy (w. 982 H) dan kitab al-Fiqhu al-Islami wa Adillatihi karya Syaikh Wahbah az-Zuhaily (w. 1436 H), Darul al-Fikr juz 7 hal 128.


Al-Imam Abu al-Laist bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqondiy (w. 373 H) dalam kitab Tanbihu al-Ghafilin, Al-Maktabah asy-Syamilah al-Haditsiyah hal 548 dan Bustanu al-'Arifin, Daru al-Kutub al-Ilmiyah hal 160 mengutip hadits dari riwayat Ibnu Mas'ud ra mengatakan:


إذا بنيت بأهلك فمرها أن تصلي ركعتين ثم خذ برأسها وقل اَللّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِي أَهْلِيْ وَبَارِكْ لِأَهْلِيْ فِيَّ وَارْزُقْهُمْ مِنِّي وَارْزُقْنِيْ مِنْهُمْ ، وَاجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ فِي خَيْرٍ ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا مَا فَرَّقْتَ فِيْ خَيْرٍ.


"Bila Kamu hendak membangun (berhubungan intim-pent) dengan istrimu, maka perintahkan kepadanya agar sholat dua rakaat, kemudian pegang kepalanya dan bacalah doa: "Ya Allah, berkahilah aku dalam keluargaku dan berkahi keluargaku dalam diriku. Berilah mereka rizki dariku dan berilah aku rizki dari mereka. Kumpulkanlah kami sebagimana Engkau telah mengumpulkan sesuatu dalam kebaikan.  Dan pisahkan kami sebagaiman Engkau telah pisahkan sesuatu dalam kebaikan."


Dalam kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwetiyah, juz 41 hal 227 dikatakan:


وورد عن أبي سعيد مولى بني أسيد أنه تزوج فحضره عبد الله بن مسعود وأبو ذر وحذيفة وغيرهم من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم عنهم فقالوا له: إِذَا أُدْخِل عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَل رَكْعَتَيْنِ وَمُرْهَا فَلْتُصَل خَلْفَكَ، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَسَل اللَّهَ خَيْرًا، وَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا.


Terdapat Atsar dari Abi Said mantan budak dari Bani Usaid, bahwa saat Abi Said menikah dihadiri oleh Ibnu Mas'ud ra, Abu Dzarrin, Hudzaifah dan lainnya dari kalangan sahabat Rusulullah. Mereka berkata pada Abi Said: "Bila istrimu masuk ke kamarmu, maka sholatlah dua rakaat dan ajaklah dia sholat di belakangmu dan peganglah ubun-ubunnya, memohonlah kebaikan dan mintalah perlindungan dari keburukannya." Atsar tersebut dikeluarkan oleh al-Hafidz Abu Bakar Abdul Razaq bin Hammam bin Nafi' Al-Humairu Ash-shan'any al-Yamaniy (w. 211 H) dalam kitabnya al-Mushannaf, Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 6 hal 153-154.


Waallahu A'lamu