Berperan atau Korban !!!
sumber gambar :https://www.google.com/search?q=peran+santri&safe=strict&client=ms-android-oppo&prmd=vni&sxsrf=ACYBGNQ79pnvThMrt7z02Pi-0sylTO97kw:1567695813725&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwi75t6A-rnkAhVc_XMBHSt4DqgQ_AUoA3oECA0QAw&biw=360&bih=630#imgrc=oymINQLUsbiZcM
Tanggal 22 Oktober telah di tetapkan sebagai Hari Santri Nasional sebagai penghargaan kepada para kiyai dan santri yang telah berperan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah sehingga ada maqolah hubbu al wathan min al iman”. Kata santri tidak akan lepas dari yang namanya pemuda.
Pemuda adalah manusia yang berumur antara 18-35 tahun mempunyai aspirasai berbeda dengan aspirasi masyarakat pada umumnya. Pemuda dan Santri sama namun berbeda, sama ditinjau umur beda tempat dan prilakunya. Disetiap generasi, eksistensi pemuda dan santri mempunyai tantangan berbeda, utamanya saat ini yang disebut generasi milenial.
Lumrah tersebar dikalanagan akademisi, aktivis intelektualis spertinya hanya mahasiswa yang paling pantas diposisikan sebagai agent of control padahal stigma tersebut juga berpotensi dimiliki lembaga non formal yang berbasis keagamaan seperti halnya pesantren.
Pesantren merupakan wadah pencetak generasi kuat untuk menghadapi perubahan zaman, seiring perubahan zaman santri tidak hanya duduk mengaji menggunakan peci tetapi juga berpartisipasi menghadapi arus globalisasi.
Tinta emas telah menggoreskan sejarah pemuda yang bertitel santri selalu tampil memberi sumbangsih dan mencurahkan darma baktinya bagi eksistensinya Negara dan Bangsa, sejak priode penjajahan hingga kemerdekaan saat ini.
santri sebagai out put pesantren terbukti tidak hanya mepunyai intelektualitas tinggi, namun juga sebagai pemuda yang memiliki spiritual yang sangat baik. Seiring perkembangan zaman, dinamika kehidupan berbangsa terus mengalami perubahan.
Pembawa perubahan itu, begitu cepatnya arus informasi melalui berbagai macam media berbasis tegnologi yang diperankan oleh generasi milenial.
Generasi milenial, generasi yang lahir antara tahun 1980-an dan 2000-an, generasi ini merupakan generasi dimana pemuda hidap selalu berdampingan dengan tegnologi bahkan cendrung tidak bisa lepas dari genggamannya. Namun generasi milenial cendrung tidak peduli terhadap keadaan sosial. Meraka cendrung fokus pada pola hidup bebas dan hidonisme. Mereka suka yang instan tidak menghargai proses bahkan generasi melineal banyak berguru pada internet yang tidak bisa membenarkan begitupun menyalahkan.
Jika hal ini terus dibiarkan begitu saja kehidupan ramah saling tegur sapa punah perlahan dan dunia akan terasa sepi ditengah kerumunan.
Santri dituntut tidak hanya belajar membaca kitab kuning dan al Quran melainkan juga dituntut melek tegnologi untuk mengimbangi derasnya globalisasi yang menghantam pemuda masa kini. Di era milenial dibutuhkan pemuda yang bisa memilihara tradisi lama yang baik serta cerdas memanfaatkan tradisi baru yang lebih baik, itu adalah santri.
Sebagai insan agamis yang hidup dengan teoritis keilmuan mempuni, santri mempunyai peran penting melakukan control dan memberi solusi pada generasasi milenial lainnya. Demam tegnologi dirasakan oleh semua kalangan begitupun pemuda yang hidup di pesantren. Santri tidak bisa menghindari ataupun bersikap acuh tak acuh terhadap perubahan generasi ini, tetapi santri bisa berperan agar tidak jadi korban. Santri merupakan harapan masyarakat mengubah kehidupan, oleh karena itu santri milenial wajib melakukan jihad kekinian supaya menjadi generasi langgas.
Meski santri tidak semuanya sama dalam mengespresikan rasa pedulinya terhadap keadaan sosial yang makin mengkikis etika baik, maka santri menjadi harapan dan solusi terbaik untuk mengontrol generasi penggiat teknologi tidak bermural.
Santri zaman milenial harus siap berprestasi, sudah saatnya santri mengambil peran di media sosial aktif di media digital. Media sosial merupakan ruang kompetisi gagasan, diharapkan santri bisa mengkampanyakan etika yang sesuai dengan ajaran Nabi. Sudah terlalu lama santri hanya bertahan, saatnya menyerang. Menyerang adalah pertahanan terbaik dari serangan zaman.
Sudah saatnya santri menjadi actor dan tampuk, bukan objek.
Kaum sarungan (santri) merupakan penerus Nabi setelah para kiyai dalam menebar benih-benih kebaikan baik berupa kata atau tingkah. Penebar sastra dunia pernah bersabda sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq, dari sabda itu penulis berkesimpilan, dengan kebaikan dari tempat terbaik santri harapan utama dalam mengontrol kehidupan generasi milenial.
Jika santri tidak berperan maka jadi korban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar